Senin, 20 September 2010

Sebentar

Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu,
seperti embun hinggap di pucuk perdu.

Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.
Semoga semakin nikmat perihmu.

"Siapakah kamu yang rela berlinang di mataku?"
"Aku sebutir doa yang berasal dari tetes keringatmu."

Tiga bentar lagi aku akan sampai di bibirmu.
Lenyapkan aku, habiskan aku dalam hausmu.

(2010)

Kamis, 16 September 2010

Kamar Nomor 1105

Pada akhir pekan saya menyepi di sebuah hotel tua
di pinggiran kota. Petugas hotel mengantar saya
ke kamar nomor 1105. “Sudah lama kamar ini tidak dihuni.
Tak ada tamu yang berani menginap di sini.”

Kamar itu lumayan besar, dilengkapi empat meja bundar.
Saya bersiap lembur, menunaikan kerja menggambar.

Di meja-1 jokpin-1 menyulut sebatang rokok,
melamun sebentar, kemudian mulai menggambar
mobil jenazah. Supaya tidak tampak seram,
mobil jenazah itu diberi warna biru langit
dan dikasih tulisan Mati untuk Hidup Abadi.

Di meja-2 jokpin-2 sibuk menggambar sopir mobil jenazah
sambil dengan khidmat menyedot rokok.
Sopir mobil jenazah itu berusia sekitar 55 tahun,
kulitnya hitam manis, memakai kopiah, bersepatu sendal,
mengenakan baju batik, kepalanya berhiaskan uban.
Ia sopir yang lugu dan sopan. Ia punya cara khas
untuk menghormat jenazah yang diantar masuk
ke dalam mobilnya: membungkuk, terpejam,
sambil menempelkan telapak tangan kanan ke dada.

Di meja-3 jokpin-3 suntuk menggambar peti jenazah
sambil sesekali mempermainkan asap rokok.
Peti jenazah bikinannya sederhana saja, tanpa ukiran dan hiasan.
Ia tidak ingin peti jenazah itu tampak lebih mewah
dari jenazah yang akan ditidurkan di dalamnya.

Di meja-4 jokpin-4 bertugas menggambar jenazah.
Ia tampak sangat gelisah sampai-sampai tanpa sadar
dimatikannya rokok yang baru separuh dihisapnya.
Berkali-kali ia membuat sketsa, tak ada satu pun yang jadi.
Ia ingin jenazah buatannya terlihat tenang dan riang,
seperti orang habis mandi. Lebih bagus lagi jika jenazah itu
terbaring damai sambil mendekap sebuah buku puisi.

Menjelang dinihari saya dikagetkan suara kecipak air
di kamar mandi. Dengan waspada saya buka pintu kamar mandi:
ah, kulihat jokpin kecil sedang mandiri (mandi sendiri)
sambil bermain telepon genggam. Telepon genggam mainan.

Jokpin-1, jokpin-2, dan jokpin-3 tertidur di kursi masing-masing,
sementara jokpin-4 masih terlihat bingung dan pusing.
Jidatnya seperti puisi setengah jadi.

Pagi-pagi sekali petugas hotel mengetuk pintu,
memberitahukan ada seorang tamu berkopiah, berbaju batik,
bersepatu sendal, beruban menunggu saya di lobi.
“Dia bilang mobil jenazahnya sudah siap.”
Jokpin-4 bangkit berdiri: “Katakan kepada sopir mobil jenazah itu
bahwa jenazahnya belum jadi. Tolong persilakan beliau pergi.”

Suatu malam saya diundang pesta puisi di balai kota.
Di halaman gedung pertunjukan saya melihat mobil jenazah
berwarna biru langit terparkir di antara mobil-mobil lainnya
yang tentu saja bukan mobil jenazah namun bila diamati
dengan mata ketiga sebenarnya mirip mobil jenazah juga.
Sopir mobil jenazah tahu-tahu sudah berdiri
di hadapan saya. Dengan hormat ia membungkuk, terpejam,
sambil menempelkan telapak tangan kanan ke dada.
Saya tarik lengannya: “Hai, aku masih hidup, tahu?”
Ia cuma tersenyum dan berkata, “Maaf Tuan, maaf Tuan.”

Di lorong remang menuju kamar mandi saya dihadang
seorang wartawan: “Seperti apa rasanya menulis puisi?”
Saya jawab sekenanya, “Mungkin seperti menggambar jenazah
tak jadi-jadi.” Ia hendak bertanya lagi, tapi tidak jadi.

Saat saya menunggu taksi untuk pulang, sopir mobil jenazah
mendekati saya lagi. “Taksinya mogok. Mari ikut mobil saya saja.”
Dengan halus saya menolak tawarannya dan mempersilakannya
segera pergi. Saya tak ingin melihat mobilnya lagi.
Biarlah saya dengar deru suaranya saja dalam sunyi.

Puisi ini belum jadi tapi mesti diakhiri sebab saya harus segera
menerima telepon dari sopir mobil jenazah itu.
Ia mengabarkan dirinya baru saja dapat lotere. Nomornya tembus.
“Memang kamu pasang nomor berapa?” tanya saya.
Dari seberang sana ia menjawab riang: “Nomor 1105.”

(2010)