Senin, 20 Desember 2010

Penyair Muda

Masa muda telah ia rangkum dan ia masukkan
ke dalam tas gendongnya, dua puluh kilogram beratnya.
Pagi-pagi sekali ia pamit kepada pacarnya:
“Aku akan pergi ke puncak Merapi
mencari batu kata paling murni.
Akan kupersembahkan padamu nanti.”

Menyilangkan tangan di dada, si pacar terpana.
“Tega sekali kautinggalkan aku
hanya untuk berburu kata-kata.
Kau tak tahu, kata-kata tak bisa menaklukkan hatiku.
Hanya hati kata yang dapat membuat
dadaku berdenyut dan mataku menyala.”

Tanpa cium berangkatlah ia memburu mimpi.
Tertatih, terjungkal, ia panjati tebing terjal
dan terus mendaki ke puncak tinggi.
Di bawah sana pacarnya galau menanti:
akankah ia kembali atau terperosok ke jurang sepi?

Di sebuah Minggu yang hangat pulanglah ia.
Tubuhnya kusut, wajahnya kumal.
Rambutnya yang lurus berubah ikal.
Di bawah pohon mangga ia bertemu pacarnya.
“Mana batu kata paling murni untukku?
Akan kujadikan hiasan kalungku.”
Ditagih janji, ia tertunduk malu.
“Gunungnya keburu meletus
sebelum aku berhasil mencapai puncaknya.
Aku cuma bawa abunya, dua puluh kilogram banyaknya.”

Antara geli dan haru, si pacar teringat abu
yang dibubuhkan di dahinya di sebuah Rabu. Rabu Abu.
Ia ambil sejumput abu dari tas gendong kekasihnya,
ia oleskan pada jidatnya seraya berkata,
“Puisi pertama adalah abu.“
Merapat sedikit, ia goreskan sebaris ciuman di bibirnya.
“Malam ini kau resmi jadi penyairku,” ucapnya
dan selembar daun mangga jatuh di atas rambutnya.

“Maaf, buah mangganya sudah habis,
tapi aku masih menyimpan kulitnya.”

(2010)

Malam Minggu

Malam minggu,
malam para jomblo,
malam para penunggu.

Pengembara muda duduk gelisah di beranda
menunggu pacarnya tak kunjung tiba.
Rindu yang ditabungnya sudah jadi racun;
bahayanya sudah sampai di ubun-ubun.

Ada orang linglung berjalan limbung di depan rumah.
Matanya bingung melihat jaman sudah berubah.
Mau belok kiri, ia gamang dan ragu.
Mau belok kanan, takut terjebak di gang buntu.

Hujan datang dan listrik mati.
Kepala takut gelap, hati tak mau pergi.
Apa lagi yang bisa bikin tenteram dan betah
bila semua, seperti kata Chairil,
tambah jauh dari cinta sekolah rendah?

Pengembara muda duduk gelisah di beranda
menunggu pacarnya tak kunjung tiba.
Apakah di sana si dia juga resah menanti?
Ia mainkan gitar dan ia bernyanyi:

Kekasih pergi meninggalkan celana di kamar mandi.
Mimpi pergi meninggalkan selimut yang belum dicuci.
Hujan pergi meninggalkan petir di subuh hari.
Burung pergi meninggalkan kicau di ranting trembesi.
Puisi pergi meninggalkan bunyi di palung sunyi.

Pergilah pergi ke mana jaman mengajakmu pergi.
Kuminum sendiri racun rinduku di sini.
Jangan khawatir, aku tak akan mati.


(2010)

Minggu, 10 Oktober 2010

Bulan

Bulan yang kedinginan
berbisik padamu:
“Bolehkah aku mandi sesaat saja
di hangat matamu?”

Malam sepenuhnya milikmu
ketika bulan tercebur
ke dingin matamu.

Bulan itu bulatan hatimu,
bertengger di dahan waktu.

(2010)

Senin, 20 September 2010

Sebentar

Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu,
seperti embun hinggap di pucuk perdu.

Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.
Semoga semakin nikmat perihmu.

"Siapakah kamu yang rela berlinang di mataku?"
"Aku sebutir doa yang berasal dari tetes keringatmu."

Tiga bentar lagi aku akan sampai di bibirmu.
Lenyapkan aku, habiskan aku dalam hausmu.

(2010)

Kamis, 16 September 2010

Kamar Nomor 1105

Pada akhir pekan saya menyepi di sebuah hotel tua
di pinggiran kota. Petugas hotel mengantar saya
ke kamar nomor 1105. “Sudah lama kamar ini tidak dihuni.
Tak ada tamu yang berani menginap di sini.”

Kamar itu lumayan besar, dilengkapi empat meja bundar.
Saya bersiap lembur, menunaikan kerja menggambar.

Di meja-1 jokpin-1 menyulut sebatang rokok,
melamun sebentar, kemudian mulai menggambar
mobil jenazah. Supaya tidak tampak seram,
mobil jenazah itu diberi warna biru langit
dan dikasih tulisan Mati untuk Hidup Abadi.

Di meja-2 jokpin-2 sibuk menggambar sopir mobil jenazah
sambil dengan khidmat menyedot rokok.
Sopir mobil jenazah itu berusia sekitar 55 tahun,
kulitnya hitam manis, memakai kopiah, bersepatu sendal,
mengenakan baju batik, kepalanya berhiaskan uban.
Ia sopir yang lugu dan sopan. Ia punya cara khas
untuk menghormat jenazah yang diantar masuk
ke dalam mobilnya: membungkuk, terpejam,
sambil menempelkan telapak tangan kanan ke dada.

Di meja-3 jokpin-3 suntuk menggambar peti jenazah
sambil sesekali mempermainkan asap rokok.
Peti jenazah bikinannya sederhana saja, tanpa ukiran dan hiasan.
Ia tidak ingin peti jenazah itu tampak lebih mewah
dari jenazah yang akan ditidurkan di dalamnya.

Di meja-4 jokpin-4 bertugas menggambar jenazah.
Ia tampak sangat gelisah sampai-sampai tanpa sadar
dimatikannya rokok yang baru separuh dihisapnya.
Berkali-kali ia membuat sketsa, tak ada satu pun yang jadi.
Ia ingin jenazah buatannya terlihat tenang dan riang,
seperti orang habis mandi. Lebih bagus lagi jika jenazah itu
terbaring damai sambil mendekap sebuah buku puisi.

Menjelang dinihari saya dikagetkan suara kecipak air
di kamar mandi. Dengan waspada saya buka pintu kamar mandi:
ah, kulihat jokpin kecil sedang mandiri (mandi sendiri)
sambil bermain telepon genggam. Telepon genggam mainan.

Jokpin-1, jokpin-2, dan jokpin-3 tertidur di kursi masing-masing,
sementara jokpin-4 masih terlihat bingung dan pusing.
Jidatnya seperti puisi setengah jadi.

Pagi-pagi sekali petugas hotel mengetuk pintu,
memberitahukan ada seorang tamu berkopiah, berbaju batik,
bersepatu sendal, beruban menunggu saya di lobi.
“Dia bilang mobil jenazahnya sudah siap.”
Jokpin-4 bangkit berdiri: “Katakan kepada sopir mobil jenazah itu
bahwa jenazahnya belum jadi. Tolong persilakan beliau pergi.”

Suatu malam saya diundang pesta puisi di balai kota.
Di halaman gedung pertunjukan saya melihat mobil jenazah
berwarna biru langit terparkir di antara mobil-mobil lainnya
yang tentu saja bukan mobil jenazah namun bila diamati
dengan mata ketiga sebenarnya mirip mobil jenazah juga.
Sopir mobil jenazah tahu-tahu sudah berdiri
di hadapan saya. Dengan hormat ia membungkuk, terpejam,
sambil menempelkan telapak tangan kanan ke dada.
Saya tarik lengannya: “Hai, aku masih hidup, tahu?”
Ia cuma tersenyum dan berkata, “Maaf Tuan, maaf Tuan.”

Di lorong remang menuju kamar mandi saya dihadang
seorang wartawan: “Seperti apa rasanya menulis puisi?”
Saya jawab sekenanya, “Mungkin seperti menggambar jenazah
tak jadi-jadi.” Ia hendak bertanya lagi, tapi tidak jadi.

Saat saya menunggu taksi untuk pulang, sopir mobil jenazah
mendekati saya lagi. “Taksinya mogok. Mari ikut mobil saya saja.”
Dengan halus saya menolak tawarannya dan mempersilakannya
segera pergi. Saya tak ingin melihat mobilnya lagi.
Biarlah saya dengar deru suaranya saja dalam sunyi.

Puisi ini belum jadi tapi mesti diakhiri sebab saya harus segera
menerima telepon dari sopir mobil jenazah itu.
Ia mengabarkan dirinya baru saja dapat lotere. Nomornya tembus.
“Memang kamu pasang nomor berapa?” tanya saya.
Dari seberang sana ia menjawab riang: “Nomor 1105.”

(2010)

Jumat, 27 Agustus 2010

Orang Gila Baru

Sesungguhnya saya malas membaca sajak-sajak saya sendiri.
Setiap saya membaca sajak yang saya tulis, dari balik
gerumbul kata-kata tiba-tiba muncul orang gila baru
yang dengan setengah waras berkata,
“Numpang tanya, apakah anda tahu alamat rumah saya?”

Kuantar ia ke rumah sakit jiwa dan dengan lembut kukatakan,
“Ini rumahmu. Beristirahatlah dalam damai.”
Gila, ia malah mencengkeram leher baju saya dan meradang,
“Ini rumahmu, bukan rumahku.”

Pernah saya mendapatkannya sedang berlari-lari kecil
di jalanan panas, lalu mendadak berhenti, mendongak ke langit,
menghormat matahari. Kali lain saya menemukannya
sedang tercenung di pinggir jalan sambil tersenyum terus,
seperti orang malang sedang menertawakan nasibnya sendiri.
Saya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ia tidak pulang
ke dalam sajak-sajak saya.

Mungkin cara terbaik untuk mencegah kemunculannya
dan terhindar dari gangguannya adalah berhenti menulis.
Tapi kawan saya bilang, “Tanpa dia, sudah lama kamu mati.”

(2010)

Durrahman

Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.
Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,
bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:
“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
akan kubereskan sekarang juga.”

Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya, lalu dilambai-lambaikannya
ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang.

Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak binasa.
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali
puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kami semua ingin jadi presiden,
baju presidenmu sudah lebih dulu kautanggalkan.

(2010)

Pengamen Kecil

Ke belantara Jakarta ia pergi ngembara.
Di tembok-tembok kota mimpinya menggema.

Senar gitarnya terbuat dari rambut ibunya.
Keringatnya terbuat dari peluh bapaknya.

Bila ia berdendang dan memetik gitarnya,
ibunya yang jauh di kampung berdesir-desir hatinya.

(2010)

Embun

Subuh nanti aku akan jadi sebutir embun
di atas daun talas di sudut kebun.

Pungut dan sembunyikan di kuncup matamu
sehingga matamu jadi mata embun.
Atau masukkan ke celah bibirmu
sehingga bibirmu jadi bibir embun.

Sabar…, aku harus pergi dulu menjenguk
seorang bocah perantau yang sedang tertidur pulas
di bawah pohon besi di sudut kotamu.
Aku akan menetes di atas luka hatinya
yang merah menganga sampai ia terjaga:
“Terima kasih, telah kausangatkan perihku.”

Mungkin aku tetes terakhir dari hujan semalam
yang belum rela sirna sebelum bertemu
dengan ibusunyi dari bocah perantau itu.

Mungkin kau hanya akan memandangiku berkilau
di atas daun talas di sudut kebun
sampai aku menguap, lenyap, ke cerlap matamu.

(2010)

Liburan Sekolah

(1)

Liburan sekolah sudah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok ajak aku piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”

Kuremas gagang stangnya yang kusam, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belok
harus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”

Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah baru
kadang menggelinding juga ke halaman tidurku.

Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,
di bawah matahari yang gondrong rambutnya,
aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.
Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitan
seperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.

Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahaya
yang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya muncul
sebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampak
seorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulap
segumpal awan menjadi selembar sapu tangan.
Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.
Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”

Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu mirip
wajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.
Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-buru
mencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”

Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigil
di depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.
Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”
Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”


(2)

Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.
Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebar
ke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukan
orang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.

Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsur
mengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecah
bongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkah
ke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagus
untuk bikin minuman. Bagus pula untuk obat.
Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudah
pusing, pilek dan demam bila kehujanan.”

Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,
ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:
“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”
Lalu ayah sempoyongan seperti orang mabuk.
Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.
Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:
“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”


(3)

Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.
Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapa
jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.

Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan
dengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.
Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.
Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.
Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kami
ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.
Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.
Tentang pelajaran matematika yang membosankan.
Tentang awalan ber- yang membingungkan. Juga tentang bu guru
yang selalu bilang astaga bila ada muridnya yang pecicilan.

Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan.
Tidak dengan kerupuk, tapi dengan beberapa biji buah rambutan
yang dipetik adik kelasku itu dan diberikannya kepadaku,
katanya untuk kenang-kenangan.

Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi,
siapa tahu bisa bertemu kembali dengannya. Ah, terlambat.
Kulihat ia keluar dari warung bersama entah siapa.
Mereka jalan bersama dengan mesra sambil ketawa-ketawa.
Aku bengong, terpana. Ia menoleh ke aku, matanya melirik
dengan cemerlang, tapi tatapannya tak sanggup lagi menembus mataku,
bahkan seyum manisnya telah mengubah hatiku menjadi
sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku di sampingnya
juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala, tapi aku keburu
balik kanan, pulang. Pulang dalam bimbang.
Aku tak tahu apakah itu yang namanya cinta monyet.
Sedikit cintanya, lebih banyak nyometnya,
dan akhirnya mungkin hanya tinggal nyemotnya.

Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil berceceran
di pinggir jalan. Kupungut dan kemasukkan ke saku celana.

Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingan
sajaknya dari saku celanaku, membersihkannya,
kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:
Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.


(4)

Bu guru memberiku tugas membuat laporan kegiatan seni.
Sore itu kuminta ibu menemaniku melihat-lihat pameran lukisan
di sebuah galeri di sudut alun-alun kota.
Lukisan-lukisan besar berbaris di dinding dan dengan hormat
menyambut kedatangan aku dan ibu.

Aku dan ibu terpikat pada sebuah lukisan yang tak jelas
siapa pelukisnya. Lukisan itu sepenuhnya berlatar hitam.
Di tengah hitam hanya ada sebuah rumah tua berpintu merah
dengan cahaya lampu redup remang. Lama aku terpesona
sampai terlambat sadar bahwa aku telah kehilangan ibu.
Ibu tak ada lagi di sampingku. Pastilah ibu sedang ke toilet
sebab tadi beberapa kali ibu menanyakan di mana toilet.

Tanpa ibu aku terus terpana memandangi lukisan itu.
Aku terkesiap ketika cahaya lampu di rumah itu makin lama
makin terang. Mungkin karena kupandangi terus,
lambat laun meremang kembali. Tiba-tiba aku merinding
dan merasa kesepian. Aku terhenyak ketika seseorang menepuk
bahuku, katanya: “Sedang melamun ya?” Ah, ternyata ibu.

“Ke toilet kok lama sekali sih, bu?”
“Ibu tidak dari toilet, anakku. Ibu habis memasuki rumah tua
dalam lukisan itu. Ternyata itu perpustakaan. Ibu sempat
membuka-buka sekilas beberapa buku tua. Ibu senang bisa menemukan
sebuah kitab puisi yang ibu cari-cari. Judulnya lucu, Celana.”
“Celana, ibu? Bukankah itu buku yang baru akan saya tulis
dua puluh tahun yang akan datang?”
Ibu segera menggandeng tanganku dan mengajakku makan bakso.


(5)

Malam Minggu. Aku duduk-duduk saja di ruang tamu
sambil menjahit baju seragamku yang koyak di bagian ketiak.
Aku menjahitnya dengan benang hitam yang lembut dan liat.

Tengah suntuk-suntuknya aku menjahit, adikku tersayang
tiba-tiba nyelonong dari belakang: “Pantesan ibu merasa kepalanya
berdenyit-denyit. Ternyata kamu menjahit dengan rambut ibu.”


(6)

Ini malam terakhir liburanku. Rasanya sekolah sudah merindukanku.
Kusempatkan membongkar tas sekolahku yang penuh
dengan ribuan kata-kata pemberian ibu dan bapak guru.
Kupilih dan kupilah mana yang harus kupersembahkan
kepada tempat sampah, mana yang mesti kuawetkan dalam ingatan.

Di ruang tengah ibu lagi bersendiri bersama televisi.
Aku mencoba melongok lewat celah pintu kamarku.
Oh, ibu sedang minum es hujan. Ibu tersenyum riang
sehabis meneguk es hujan. Teguk lagi, senyum lagi.
Teguk lagi, senyum lagi. Tapi mengapa gelas ibu
seperti tak berkurang isinya, malah terisi penuh kembali?
Rupanya ada air mata tak kelihatan yang mengucur ke gelas ibu.

Aku tahu ibu diam-diam sedang menangis terharu.
Aku tak tahu apakah ibu terharu karena nilai ulanganku bagus semua
atau karena belum bisa membelikanku sepatu baru.
Kututup rapat pintu kamarku, kukemasi buku-buku pelajaranku.


(7)

Pagi-pagi, berbekal kecupan hangat ibu,
aku bersama sepeda merahku berangkat berjuang kembali ke sekolah.
Di perjalanan aku dicegat oleh adik kelasku yang satu itu.
“Hai, ada titipan salam untukmu dari kakakku.”
“Siapa kakakmu?”
“Itu... yang ke warung bersamaku malam itu.”
Aku terdiam dan ia lanjut jalan. Senyum hebatnya tak bisa lagi kulawan.


(2009/2010)

Doa Seorang Pesolek

Tuhan yang cantik,
temani aku yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.

Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.

Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.

Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.

Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.

Semoga kecantikanku tak lekas usai
dan cepat luntur seperti pupur.

Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan
menghangatkan susuku

sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek kutangku.

Sebelum Kausenyapkan warna.

Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
di bibirku yang mati kata.

(2009)

Mas

Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.

Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin mengajakmu
duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap ke laut.
Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair
yang tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya.

Wah, mas sudah lebih dulu tiba. Ia tampak gelisah
dan mondar-mandir saja di pantai. Saya segera memanggil
dan mengajaknya duduk di bangku. “Duduklah, mas,
jangan mandir-mondar melulu. Ini kubawakan
sepotong coklat dan sebotol anggur merah tua.”

Mas mendekat ke arah saya dan saya menyambutnya:
“Mas boleh pilih, mau duduk di sebelah kiri atau di sebelah
kananku.” Ia sedikit terperangah. “Apa bedanya?” timpalnya.
“Kiri: bagian diri saya yang dingin dan suram.
Kanan: wilayah jiwa saya yang panas dan berbahaya.”

Diam-diam mas memeluknya dari belakang dan berbisik
di telinganya: “Kalau begitu, aku duduk di pangkuanmu saja.
Aku ingin lelap sekejap sebelum lenyap ke balik matamu
yang hangat dan sunyi. Sebelum aku tinggal ilusi.”
Perempuan itu merinding dan menjerit: “Maaasss....”

Pantai dan bangku mendadak fana dan tak seorang
penyair pun bisa menolongnya. Senja yang ia panggil mas
telah sirna. Ah, begitu cepat ia rindukan lagi kota.

(2008)

Selasa, 24 Agustus 2010

Kredo Celana

Yesus yang seksi dan murah hati,
kutemukan celana jinmu yang koyak
di sebuah pasar loak.
Dengan uang yang tersisa dalam dompetku
kusambar ia jadi milikku.

Ada noda darah pada dengkulnya.
Dan aku ingat sabdamu:
“Siapa berani mengenakan celanaku
akan mencecap getir darahku.”

Mencecap darahmu? Siapa takut!
Sudah sering aku berdarah,
walau darahku tak segarang darahmu.

Siapa gerangan telah melego celanamu?
Pencuri yang kelaparan,
pak guru yang dihajar hutang,
atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?
Entahlah. Yang pasti celanamu
pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan rendah hati,
malam ini aku akan baca puisi
di sebuah gedung pertunjukan
dan akan kupakai celanamu
yang sudah agak pudar warnanya.
Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

Di panggung yang remang-remang
sajak-sajakku meluncur riang.
Makin lama tubuhku terasa menyusut
dan lambat-laun menghilang.
Tinggal celanamu bergoyang-goyang
di depan mikrofon,
sementara sajak-sajakku terus menggema
dan aku lebur ke dalam gema.
“Hidup raja celana!” Hadirin terkesima.

Kelak akan ada seorang ibu
yang menjahit sajak-sajakku
menjadi sehelai celana
dan celanaku akan merindukan celanamu.

(2007)

Angkringan

Lapar mengajak saya ke warung angkringan
di pinggir jalan. Tuan pedagang angkringan
sedang ketiduran. Ia batuk-batuk, mengerang,
kemudian ia betulkan batuknya yang sumbang.

Saya makan dua bungkus nasi kucing.
Saya bikin kopi sendiri, ambil rokok sendiri.
Saya bayar, saya hitung sendiri. “Kembaliannya
untuk Tuan saja,” kata saya dalam hati.
Lalu saya pamit pulang. “Selamat tidur, pejuang.”

Tuan pedagang angkringan terbangun.
“Tunggu, jangan tinggalkan saya sendirian!”
Setelah semuanya ia bereskan, ia paksa saya
segera naik ke atas gerobak angkringan.
”Berbaringlah, Tuan. Saya antar Tuan pulang.”

Amboi, saya telentang kenyang di atas
gerobak angkringan yang berjalan pelan
menyusuri labirin malam. Saya terbuai, terpejam.
Seperti naik perahu di laut terang, meluncur ringan
menuju rumah impian nun di seberang.
Samar-samar saya lihat bayangan seorang ibu
sedang meninabobokan anaknya dalam ayunan:
Tidurlah, tidur, tidurlah anakku tersayang….

(2007)

Tukang Potret Keliling

Cita-citanya tinggal satu: memotret seorang pujangga
yang tak pernah suka diambil gambarnya.
Ia ingat bual seorang peramal: “Kembaramu
akan berakhir pada paras seorang penyair.”

Demikianlah, dengan tangan gemetar, ia berhasil
mencuri wajah penyair pendiam itu dengan tustelnya.
Ia bahagia, sementara sang pujangga terpana:
“Ini wajahku, wajahmu, atau wajah kita?”

Tak lama kemudian tukang potret keliling itu mati.
Tubuhnya yang sementara terbujur di ruang
yang dindingnya penuh dengan foto-foto karyanya.
Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya.

Kerabatnya bingung. Mereka tidak juga menemukan
potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya.
“Sudah, pakai foto ini saja,” cetus salah seorang
dari mereka sambil diambilnya foto pujangga.
“Lihat, mirip sekali, bukan? Nyaris serupa.”

Penyair kita tampak di antara kerumunan pelayat
yang berdesak-desakan memanjatkan doa
di sekeliling peti almarhum. Ada seorang ibu
yang dengan haru mengusap foto itu: “Hatinya
pasti manis. Di akhir hayatnya wajahnya keren abis!”

(2007)

Puasa

kepada penyair Haspahani

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan keringat yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi.

(2007)

Selamat Malam, Jenderal

Ia punya tato jenderal di tubuhnya.
Selamat malam, jenderal. Aku mau tidur.
Dengan sigap jenderal kecilnya
segera berkeliling memeriksa tubuhnya.
Kau tak tersiksa tiap malam kuinjak-injak?
Tidak tersiksa, jenderal, malah terhormat.
Dan tidurlah ia, sementara jenderal rindu
yang lucu dan perkasa itu tetap berjaga
sebab siapa tahu berandalan sepi
datang mengobrak-abrik tubuh tuannya.

(2007)

Pembangkang

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tidak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

(2007)

Terang Bulan

Di bawah jembatan layang
bocah lima tahun berkelahi
dengan bayangannya sendiri.
Uh! Ia mengerang.
Perutnya yang kembung kena tendang.

(2007)

Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam

Sepi meletus. Suaranya yang lucu
mengagetkan tato macan
yang sedang mengaum di tubuhmu.

(2007)

Duel

Ayo, buku, baca mataku!

(2007)

Kaki Negara

Kakiku telah kaujadikan kaki kursimu.
Jangan duduk terlalu lama, nanti kakiku patah,
kursimu rebah, pantatmu pecah.

(2007)

Aku Tak Pergi Ronda Malam Ini

Aku doakan semoga aman-aman saja.
Kalau nanti bertemu maling,
ajak dia ke rumahku.
Hasil curiannya bisa kita bagi bertiga.

(2007)

Rumah Horor

Hiii…, AKU merinding masuk ke rumahmu:
semua dindingnya penuh dengan fotomu!

(2007)

Teringat Masa Kecil Saat Bermain Bola di Bawah Purnama

Seperti bola pingpong memantul-mantul
di atas kening, bergulir pelan ke tebing tidurku
yang hening, melenting, menggelinding….

(2007)

Rambut Curian

Aku beruntung bisa mencuri sehelai rambutmu
dan menanamnya di tubuhku
sampai tumbuh subur dan lucu.
Mungkin kata-kata juga seperti rambut.
Hitam di kamu, bisa jadi pirang di aku.

(2007)

Jeritan Bayi di Dasar Jurang

merontokkan semua huruf “a”
dalam doaku yang bawel dan manja.

(2007)

Seribu Kunang-kunang di Jakarta

Gadis kecil jalan seorang
dengan payung hitam.
Tangannya gemetar
menjinjing bulan
dalam keranjang.

(2007)

Malam Pemadat

Pilin dan padatkan aku menjadi sebatang candu,
hisap dan bakarlah sampai berkobar di tubuhmu.
Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku
sampai menguap di pori-porimu.

(2007)

Kambing Hitam

Kambing hitam sebentar lagi akan disembelih
untuk korban persembahan. Kepada tukang jagal
yang akan menggorok lehernya ia berkata,
“Ketika lahir, buluku warnanya putih.”

(2007)

Taman Hiburan Negara

Ini tempat umum, bung.
Dilarang melamun sembarangan di sini.

(2007)

Jalan ke Surga

Jalan menuju kantorMu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku.

(2007)

Penjahat Berdasi

Ia mati dicekik dasinya sendiri.

(2007)

Gaun Tidur

Gaun tidurku menyembunyikanmu.
Seperti doa yang ganas,
kau merasuk ke panas darahku.
Gaun tidurku basah olehmu.

(2007)

Bangkai Banjir

Rumahku keranda terindah untuknya.

(2007)

Di Kalvari

SalibMu tinggi sekali.
Ya, lebih baik kaupanjat salibmu sendiri.

(2007)

Beethoven: Minuet in G Major

Ucapkan selamat tidur kepada matamu.
Matamu sebentar lagi jadi kunang-kunangku.

(2007)

Sajak Panjang

Apa nama jalan menuju judul, sajakku?
Namanya jalan panjang, penyairku.

(2007)

Gambar Hati Versi Penyair

Seperti dua koma bertangkupan.
Dua koma dari dua kamus yang berbeda
dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi.

(2007)

Puisi Telah Memilihku

Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi
di antara baris-barisnya yang terang.
Dimintanya aku tetap redup dan remang.

(2007)

Jalan Sunyi

Ada jalan kecil menuju kebunmu:
ada hujan mungil merayap pelan
ke liang sajakku.

(2007)

Pemulung Kecil

Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah: onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.

Sesekali ia bercanda juga:
“Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibuk melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.”

Dikumpulkannya pula rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak: “Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga.”

Kemudian ia pergi dan masuk ke relung tidurku.

(2006)

Sedang Apa

Sedang apa, penyair, malam-malam
masih sibuk menempa dan memahat kata?
Sedang membuat patung dirimu?

Sedang membuat batu nisan untukmu.

(2006)

Kepada Mata

Kaulah matahari malam
yang betah berjaga menemani saya,
menemani kata, sehingga saya
tetap bisa menyala
di remang redup kata.

(2006)

Terompet Tahun Baru

Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota
untuk meramaikan malam tahun baru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja
sebab beliau harus menemani kalender
pada saat-saat terakhirnya.

Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu
tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya
dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.

Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.

(2006)

Kepada Saya

Anda boleh menulis puisi
untuk atau kepada siapa saja
asal jangan sampai lupa
menulis untuk atau kepada saya.
Siapakah saya? Saya adalah Kata.

(2006)

Selamat Tidur, Malam

Selamat tidur, malam.
Selamat menggigil di tubuh
yang tak bisa tidur ini:
ranjang kecil yang tak
akan habis kautiduri.

(2006)

Kepada Jengki

Bulan tertawa bahagia
melihat kau berdiri gagah
dengan jaket coklatmu.

Ombak mulai gelisah
melihat kau pelan-pelan
membuka jaket coklatmu.

Malam melonjak girang
melihat kau setengah telanjang
tanpa jaket coklatmu.

Nun dari seberang
seorang bidadari datang
berselimutkan jaket coklatmu.

Di pantai terpencil ini, Jengki,
sepasang sepi mabuk berat
di tubuh coklatmu.

(2006)

Dua Ekor Celana

Rumah itu sepi sekali
tapi terasa riuh juga
ketika dua ekor celana
saling sambar di bibir jendela
sementara dua batang badan
tumbang perlahan
di pinggir ranjang.

(2006)

Di Perjamuan

Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
yang baik dan benar, Sayang.

(2006)

Sehabis Sakit

Di kamar mandi kutemukan
tubuhku yang haus sedang menari.
Satu, dua, tiga, dan jarum sepi
berputar keras sekali.

Bilur-bilur tatu telah membiru
pada punggung yang dicambuki waktu,
dan tubuhku yang aus terus menari
sampai kuyup ia sebelum mandi.

Tubuhku pohon ranggas
yang bertunas kembali,
sajak cinta yang ditulis ulang
oleh tangan tersembunyi.

Tubuhku kenangan yang sedang
menyembuhkan lukanya sendiri.

(2006)

Dalam Demam

Anak lelaki kecil melambai-lambai
dalam ingatan. Ia datang naik sepeda,
menyusuri jalanan kecil di tengah hutan cemara.

Bajunya hijau, celananya hitam,
tubuhnya terlihat ringkih dan ringan,
dan ia bersenandung riang,
kring kring…, sepeda merahnya meluncur pelan.

Awas, jangan melamun, di depan ada tikungan.
Tiba-tiba ia lari dikejar hujan,
meliuk-liuk menuruni tebing curam,
mau belok ke kiri keliru ke kanan,
oh akhirnya tergelincir ke gigir jurang.

Seperti kudengar suara aduh dari lembah
yang jauh, jeritan waktu dari relung yang dalam.

Dengan kaki dan dahi berdarah,
tahu-tahu ia muncul kembali di atas bukit.
Ia mengayuh sepedanya yang cidera
menuju rumah: si ibu sejak tadi didera gundah.

Setelah minum tiga tetes airmata ibunya,
sakitnya lerai. Senja berangkat tidur dengan damai.

(2006)

Kepada Cium

Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah batu karang tersembunyi,

seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

malam ini aku mau minum di bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.

(2006)

Cinta Telah Tiba

Cinta telah tiba
sebelum kulihat parasnya
di musim semi wajahmu.

Telah menjadi kita dan kata
saat kucicipi hangatnya
di kuncup rekah bibirmu.

Menjadi deru dan dera
saat kuarungi arusnya
di laut kecil matamu.

(2006; kado buat Eka & Ratih)

Usia 44

Dua kursi kurus duduk gelisah
di bawah pohon hujan di pojok halaman.

Dua ekor celana terbang rendah
dengan kepak sayap yang makin pelan.
Yang warnanya putih hinggap di kursi kiri.
Yang putih warnanya hinggap di kursi kanan.

Dua ekor celana, dua ekor sepi
menggigil riang di atas kursi
di bawah rindang hujan di pojok halaman
dan berkicau saja mereka sepanjang petang.

(2006)

Ranjang Kecil

Tubuhmu tak punya lagi ruang
ketika relungmu menghembuskan raung.

(2006)

Harimau

Aku masuk ke relung kata, mau bertemu
dengan bermacam-macam arwah kata,
malah harimau kata yang kujumpa.
Kuasah pena, kutikam lehernya.
Harimauku terluka parah,
penaku nyaris patah.

(2006)

Pasien

Seperti pasien keluar masuk rumah sakit jiwa,
kau rajin keluar masuk telepon genggam,
melacak jejak suara tak dikenal yang mengajakmu
kencan di kuburan pada malam purnama:
Aku pakai celana merah. Lekas datang ya.
Kutengok ranjangmu: tubuhmu sedang membeku
menjadi telepon genggam raksasa.

(2006)

Magrib

Di bawah alismu hujan berteduh.
Di merah matamu senja berlabuh.

(2006)

Surat dari Yogya

Syamsul, kekasih kita, tiba-tiba raib entah ke mana.
Pada malam terakhir ia terlihat masih tertawa
bersama Saut, temannya minum bir dan bercanda.
Bahkan ia sempat mengantar sepasang turis
melihat-lihat korban gempa.
Setelah itu ia tinggalkan begitu saja becaknya
di depan rumahnya yang porak poranda.

Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa.
Banyak yang terasa baru, segala yang lama
mungkin akan tinggal cerita,
dan kita tak punya waktu untuk berduka.
Banyak yang terasa musnah, atau barangkali
kita saja yang gagap untuk berubah,
seakan hidup miskin adalah berkah.
Entahlah. Aku hanya lihat samar-samar
sarung Syamsul berkibar-kibar di depan rumah.

Suatu malam becak Syamsul datang ke rumahku:
“Apakah Mas Syamsul ada di sini?”
Kubetulkan celanaku, kurapikan sajak-sajakku:
“Syamsul masih ada. Ia tidak ke mana-mana.
Syamsul sudah menjadi nama sebuah kafe
yang baru saja dibuka. Maukah kau kuajak ke sana?”

(2006)

Layang-layang Ungu

Celana ungu pemberian kakekku telah kugubah
menjadi layang-layang; kulepas ia di malam terang.
Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku,
mencium harum bulan: ranum bayi
yang masih disayang waktu;
menjangkau relung bunda di palung senja.

Saat aku sakit, layang-layangku menggelepar manja
di bawah jendela, lalu lenyap entah ke arah mana.

Telepon genggam menyampaikan pesan dari Ibu:
“Layang-layangmu yang lucu telah mendarat
di dahan pohon sawo di belakang rumah, tempat kau
dan bulan dulu sering menyepi membaca buku.
Ayahmu yang suka melamun segera berlari.
Ini baru layang-layang, katanya girang sekali.

Kini bapakmu sedang menerbangkan si ungu
di atas bukit di samping kuburan kakekmu.
Bulan sedang nakal-nakalnya. Salam rindu. Ibu.”

(2006)

Kepada Uang

Uang, berilah aku rumah yang murah saja,
yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku,
yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.

Sabar ya, aku harus menabung dulu.
Menabung laparmu, menabung mimpimu.
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu.

Uang, berilah aku ranjang yang lugu saja,
yang cukup hangat buat merawat encok-encokku,
yang kakinya lentur dan liat seperti kaki masa kecilku.

(2006)

Rabu, 18 Agustus 2010

Malam Suradal

Sebelum ia berangkat bersama becaknya,
istrinya berpesan, “Jangan lupa beli minyak tanah.
Aku harus membakar batukmu yang menumpuk
di sudut rumah.” Dan anaknya mengingatkan,
“Besok aku harus bayar sekolah. Aku akan giat belajar
agar kelak dapat membetulkan nasib Ayah.”

Setelah berjam-jam mangkal dan tidak juga
beroleh penumpang, ia berkata kepada becaknya,
“Pulang saja yuk, sayang. Perutku sudah keroncongan.
Siapa tahu kita mendapat orang bingung di jalan.”

Di jalan kampung yang remang-remang
petugas ronda mencegatnya dan sambil merinding
bertanya, “Suradal, mayat siapa yang kaubawa?”
“Ini mayat malam, Tuan. Saya akan menguburkannya
di sana, di ladang hujan di belakang rumah saya.”

(2006)