Selasa, 27 November 2012

Airmata

Biarkan hujan yang haus itu
melahap airmata
yang mendidih di cangkirmu.

(2012)

Hujan Kecil

Hujan tumbuh di kepalaku.
Hujan penyegar waktu.

Memancur kecil-kecil.
Mericik kecil-kecil.
Dihiasi petir kecil-kecil.

Hujan masa kecil.

(2012)

Sungai

Ibu membekaliku sebuah sungai
yang jernih dan berkecipak-kecipak airnya.
Sungai itu ditanam di telapak tanganku,
mimpi ibu terbawa dalam arusnya.

Bila aku tidur, sungaiku berkelana
menyusuri garis-garis nasibku.
Gemercik di tengah hutan.
Gemuruh di malam jauh.

Bila rindu meluap dan aku banjir, 
jari-jari tanganku mengucurkan air.

(2012)

Keringat

Tiap hari ayah memasukkan
butiran keringatnya ke dalam botol
dan menyimpannya di kulkas.

Bila saya dilanda demam yang ganas,
ayah menuang keringat dinginnya
ke dalam gelas, saya minum hingga tandas.

Ceguk. Ceguk. Asunya amblas.

(2012)

Keranjang

Perempuan itu membuat keranjang
dari benang-benang hujan
dan menggantungnya di beranda.

Di dalam keranjang ia tidurkan bayinya,
bayi yang lahir dari rahim senja.

Bila malam haus cahaya,
bayi mungil itu menyala
dan keranjang dirubung sepi di beranda.

(2012)

Batu Hujan

Menjelang subuh lelaki tua itu
keluar dari tidurnya, kemudian masuk
ke dalam batu besar di depan rumahnya.

Di dalam batu ia temukan
bongkahan bening dan biru:
hati hujan yang matang diperam waktu.

(2012)

Mengenang Asu

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

(2012)

Petir

Petir yang pecicilan itu
terkapar dihajar sepi
yang sedang mabuk
di atas sajakku.

(2012)

Doa Malam

Tuhan yang merdu,
terimalah kicau burung
dalam kepalaku.

(2012)

Rabu, 18 April 2012

Ulang Tahun

Hari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50.
Saya duduk membaca di bawah jendela,
matahari sedang mekar berbunga.
Seorang bocah muncul tiba-tiba,
memetik kembang uban di kepala saya.

Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50.
Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49.
Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48.
Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17.
Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun.

Pada hari ulang tahun saya yang ke-9
saya diajak ayah mengamen berkeliling kota.
“Hari ini kita akan dapat duit banyak.
Ayah mau kasih kamu sepatu baru.”

Karena kecapaian, saya diminta ayah
duduk menunggu di atas bangku
di samping tukang cukur kenalan ayah.
“Titip anakku, ya. Tolong jaga dia baik-baik.
Akan kujemput nanti sebelum magrib.”

Sebelum magrib ia pun datang.
Tukang cukur sudah pulang. Anaknya hilang.

“Ibu tahu anak saya pergi ke mana?”
tanyanya kepada seorang perempuan penjaga warung.
“Dia pakai baju warna apa?”
“Dia pakai celana merah.”
“Oh, dia dibawa kabur tukang cukur edan itu.”

Sampai di rumah, ia lihat anaknya
sedang duduk membaca di bawah jendela.
Kepalanya gundul dan klimis,
rambutnya yang subur dicukur habis.
“Ayah pangling dengan saya?” bocah itu menyapa.

Lama ia terpana sampai lupa bahwa uang
yang didapatnya tak cukup buat beli sepatu.
Gitar tua yang dicintanya terlepas dari tangannya.
“Anakku, ya anakku, siapa yang menggunduli nasibmu?”

(2011/2012)

Ibu Hujan

Ibu hujan dan anak-anak hujan
berkeliaran mencari ayah hujan
di perkampungan puisi hujan.

Anak-anak hujan berlarian
meninggalkan ibu hujan
menggigil sendirian di bawah pohon hujan.

Anak-anak hujan bersorak girang
menemukan ayah hujan
di semak-semak hujan.
Ayah hujan mengaduh kesakitan
tertimpa tiga kilogram hujan.

Ayah hujan dan anak-anak hujan
beramai-ramai menemui ibu hujan,
tapi ibu hujan sudah tak ada
di bawah pohon hujan.

“Kita tak akan menemukan ibu hujan di sini.
Ibu hujan sudah berada di luar hujan.”

(2011/2012)

Tangan Kecil

Tangan kecil hujan
menjatuhkan embun
ke celah bibirmu,
meraba demam pada lehermu,
dan dengan takzim
membuka kancing bajumu.

Tangan kecil malam
menyusup pelan
ke dalam hangatmu,
menemukan aku
yang sedang bergila-gila
di suhu tubuhmu.

(2012)

Sajak Kacamata

Saya tahu, jika saatnya tiba, saya akan memakai kacamata.
Kacamata yang kacanya terbuat dari kaca kata
dan matanya dari mata bocah yang haus cinta.

Ada senja kecil yang sedang berdoa di mata saya
dan doa terbaik adalah sunyi.
Seseorang akan memberi saya kacamata
untuk memancarkan cahaya sunyi senja
ke jalan-jalan yang dilewati puisi.

Saya tahu, pada akhirnya saya akan berkacamata.
Kacamata yang bingkainya terbuat dari logam mimpi
dan gagangnya dari tangkai hujan yang liat sekali.

Malam itu, setelah semuanya selesai, saya berjalan
menuju rumah mandi di atas bukit. Saya memakai kacamata
untuk menerangi jalanan gelap yang harus saya lalui.

Di rumah mandi telah berkumpul para kekasih insomnia.
Mereka semua mengenakan kacamata.
Seorang bocah menyambut saya dan berkata,
“Pesta mandi siap dimulai. Tuan sudah dinanti-nanti.”

Ia anak yang lahir dalam puisi; yang menjaga
sajak-sajak saya, bahkan ketika saya tak lagi berada
di tempat di mana ia berada. Ia yang memberi saya kacamata.

(2012)

Rumah Boneka

: Raden Suyadi

Kota telah tidur. Kata-kata telah tidur.
Hanya seorang pendongeng tua di atas kursi roda
mondar-mandir mengitari dingin malam
yang baru saja ditinggalkan para peronda.

Tiga orang boneka menghampirinya:
“Pak Raden, angin makin jahat.
Pulanglah ke rumah kami biar hatimu hangat.”

Di rumah boneka ia lihat fotonya selagi muda
sedang tersenyum kepada matahari
yang selalu tertawa. Tiba-tiba ia berdiri
dan tiga orang boneka menemaninya menari.

Tiga orang boneka akan menyelamatkan kenangan
dari akhir yang hampa. Selamat malam.

(2012)

Ingatan

Hujan masih mengingat saya
walau saya tak punya lagi daun hijau
yang sering dicumbunya dengan gila
sampai saya terengah-engah
menahan beratnya cinta.

Hujan masih mengingat saya
walau saya tinggal ranting kering
yang akan dipatahkannya
dan dibawanya hanyut dan sirna.

(2012)

Selasa, 10 Januari 2012

Tahilalat

Pada usia lima tahun ia menemukan
tahilalat di alis ibunya,
terlindung bulu-bulu hitam lembut,

seperti cinta yang betah berjaga
di tempat yang tak diketahui mata.

Kadang tahilalat itu memancarkan cahaya
selagi si ibu lelap tidurnya.
Dengan girang ia mengecupnya:
“Selamat malam, kunang-kunangku.”

Ketika ia beranjak remaja
dan beban hidup bertambah berat saja,
tahilalat itu hijrah ke tengkuk ibunya,
tertutup rambut yang mulai layu,

seperti doa yang merapalkan diri
di tempat yang hanya diketahui hati.

Disingkapnya rambut si ibu,
diciumnya tahilalat itu: “Maaf,
sering lupa kuucapkan amin untukmu.”

Akhirnya ia benar-benar sudah dewasa,
sudah siap meninggalkan rumah ibunya,
dan ia tak tahu tahilalat itu pindah ke mana.

“Jika kau menemukannya,
masihkah kau akan mengecupnya,
akankah kau menciumnya?” si ibu bertanya.

Ah, tahilalat itu telah hinggap
dan melekat di puting susu ibunya.

(2011)