Pada usia lima tahun ia menemukan
tahilalat di alis ibunya,
terlindung bulu-bulu hitam lembut,
seperti cinta yang betah berjaga
di tempat yang tak diketahui mata.
Kadang tahilalat itu memancarkan cahaya
selagi si ibu lelap tidurnya.
Dengan girang ia mengecupnya:
“Selamat malam, kunang-kunangku.”
Ketika ia beranjak remaja
dan beban hidup bertambah berat saja,
tahilalat itu hijrah ke tengkuk ibunya,
tertutup rambut yang mulai layu,
seperti doa yang merapalkan diri
di tempat yang hanya diketahui hati.
Disingkapnya rambut si ibu,
diciumnya tahilalat itu: “Maaf,
sering lupa kuucapkan amin untukmu.”
Akhirnya ia benar-benar sudah dewasa,
sudah siap meninggalkan rumah ibunya,
dan ia tak tahu tahilalat itu pindah ke mana.
“Jika kau menemukannya,
masihkah kau akan mengecupnya,
akankah kau menciumnya?” si ibu bertanya.
Ah, tahilalat itu telah hinggap
dan melekat di puting susu ibunya.
(2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar