Senin, 20 Desember 2010

Penyair Muda

Masa muda telah ia rangkum dan ia masukkan
ke dalam tas gendongnya, dua puluh kilogram beratnya.
Pagi-pagi sekali ia pamit kepada pacarnya:
“Aku akan pergi ke puncak Merapi
mencari batu kata paling murni.
Akan kupersembahkan padamu nanti.”

Menyilangkan tangan di dada, si pacar terpana.
“Tega sekali kautinggalkan aku
hanya untuk berburu kata-kata.
Kau tak tahu, kata-kata tak bisa menaklukkan hatiku.
Hanya hati kata yang dapat membuat
dadaku berdenyut dan mataku menyala.”

Tanpa cium berangkatlah ia memburu mimpi.
Tertatih, terjungkal, ia panjati tebing terjal
dan terus mendaki ke puncak tinggi.
Di bawah sana pacarnya galau menanti:
akankah ia kembali atau terperosok ke jurang sepi?

Di sebuah Minggu yang hangat pulanglah ia.
Tubuhnya kusut, wajahnya kumal.
Rambutnya yang lurus berubah ikal.
Di bawah pohon mangga ia bertemu pacarnya.
“Mana batu kata paling murni untukku?
Akan kujadikan hiasan kalungku.”
Ditagih janji, ia tertunduk malu.
“Gunungnya keburu meletus
sebelum aku berhasil mencapai puncaknya.
Aku cuma bawa abunya, dua puluh kilogram banyaknya.”

Antara geli dan haru, si pacar teringat abu
yang dibubuhkan di dahinya di sebuah Rabu. Rabu Abu.
Ia ambil sejumput abu dari tas gendong kekasihnya,
ia oleskan pada jidatnya seraya berkata,
“Puisi pertama adalah abu.“
Merapat sedikit, ia goreskan sebaris ciuman di bibirnya.
“Malam ini kau resmi jadi penyairku,” ucapnya
dan selembar daun mangga jatuh di atas rambutnya.

“Maaf, buah mangganya sudah habis,
tapi aku masih menyimpan kulitnya.”

(2010)

Malam Minggu

Malam minggu,
malam para jomblo,
malam para penunggu.

Pengembara muda duduk gelisah di beranda
menunggu pacarnya tak kunjung tiba.
Rindu yang ditabungnya sudah jadi racun;
bahayanya sudah sampai di ubun-ubun.

Ada orang linglung berjalan limbung di depan rumah.
Matanya bingung melihat jaman sudah berubah.
Mau belok kiri, ia gamang dan ragu.
Mau belok kanan, takut terjebak di gang buntu.

Hujan datang dan listrik mati.
Kepala takut gelap, hati tak mau pergi.
Apa lagi yang bisa bikin tenteram dan betah
bila semua, seperti kata Chairil,
tambah jauh dari cinta sekolah rendah?

Pengembara muda duduk gelisah di beranda
menunggu pacarnya tak kunjung tiba.
Apakah di sana si dia juga resah menanti?
Ia mainkan gitar dan ia bernyanyi:

Kekasih pergi meninggalkan celana di kamar mandi.
Mimpi pergi meninggalkan selimut yang belum dicuci.
Hujan pergi meninggalkan petir di subuh hari.
Burung pergi meninggalkan kicau di ranting trembesi.
Puisi pergi meninggalkan bunyi di palung sunyi.

Pergilah pergi ke mana jaman mengajakmu pergi.
Kuminum sendiri racun rinduku di sini.
Jangan khawatir, aku tak akan mati.


(2010)