Selasa, 24 Agustus 2010

Layang-layang Ungu

Celana ungu pemberian kakekku telah kugubah
menjadi layang-layang; kulepas ia di malam terang.
Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku,
mencium harum bulan: ranum bayi
yang masih disayang waktu;
menjangkau relung bunda di palung senja.

Saat aku sakit, layang-layangku menggelepar manja
di bawah jendela, lalu lenyap entah ke arah mana.

Telepon genggam menyampaikan pesan dari Ibu:
“Layang-layangmu yang lucu telah mendarat
di dahan pohon sawo di belakang rumah, tempat kau
dan bulan dulu sering menyepi membaca buku.
Ayahmu yang suka melamun segera berlari.
Ini baru layang-layang, katanya girang sekali.

Kini bapakmu sedang menerbangkan si ungu
di atas bukit di samping kuburan kakekmu.
Bulan sedang nakal-nakalnya. Salam rindu. Ibu.”

(2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar