Minggu, 08 Desember 2013

Surat Cukur

Aku mengarang surat ini di hadapan cermin
yang sedang memamerkan rambut baruku.

Subuh tadi aku dicukur. Aku didatangani
tukang cukur gondrong dan gila. Ia menghunus
pisau cukurnya sambil mencengkeram tengkukku:
“Aku ingin membuat garis merah di lehermu.”

Di masa kecilku tukang cukur itu pernah
menggunduli kepalaku di bawah pohon beringin,
lalu mengantarku pulang dengan sepedanya.
Setelah itu aku tak pernah lagi melihatnya.

Sebagian rambutku sudah menjadi rambut salju.
Jangan sedih. Aku belum lupa cara untuk berbahagia.
Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala.

Di dalam cermin ada matahari yang pemalu.
Matahariku kecil saja dan tidak sombong.
Aku tak bisa melihat matahari kecilku
sebab ia sembunyi di belakang kepalaku.

Aku tak akan lupa garis merah di telapak tanganmu.
Semoga hidupmu lebih manis dari jidat manismu.
Ini aku kirimkan potongan rambutmu
yang dulu kamu tanam di sela-sela rambutku.

(2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar