Rabu, 09 Oktober 2013

Surat Batu

Maaf, baru sekarang aku membalas surat
yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

Waktu itu kamu memintaku merawat
sebuah batu besar di halaman rumahmu
sebelum nanti kamu pahat menjadi patung.
Batu itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

Aku suka duduk membaca dan melamun
di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya.
Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu
dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan
lebih besar dari cintamu. Aku senang
melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu
lahir air mancur kecil yang menggemaskan.
Air mancur itu sekarang sudah besar,
sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

Maaf, jangan ganggu air mancurku.
Bahkan batumu mungkin sudah tidak mengenalmu.

(2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar