Waktumu sebentar lagi habis, hujan.
Malam akan menganga dan kau menjadi gema.
Mula-mula kau berjalan rintik-rintik,
bolak-balik antara ujung kepala dan ujung kaki.
Ketika demam berhembus, kau meluncur deras
diiringi tiga tembakan petir. Hatiku banjir.
Kau membuat kolam di lambungku dan aku
terdiam mendengar kecipak air di kolamku.
Kini kau merintik kembali dan rintikmu
sebentar lagi sirna. Tinggal gigil penjual sate
yang tiba-tiba berhenti di leherku, mendengar “T”
yang Tuhan serukan di ujung lidahku.
Malam mulai menganga dan kau menjadi gema.
(2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar